-
-
-

Senin, 18 Februari 2013

pengertian dan ruang lingkup akidah



Aqidah (Iman)
a.       Pengertian
‘Aqada –ya’qidu- ‘aqdan artinya mengikatkan tali, mengkokokan janji dan menyatakan ikatan jual beli. Juga dibandingkan ‘aqida-ya’qadu-‘aqadan artinya terikat, hasil kesepakatan, berjanji setia, menyerahkan urusan pada orang lain karena ia dipercaya, persetujuan, dalil, alasan, ikatan nikah, kalung leher, sukar, sulit dan teka teki (Mahmud Yunus, 1989:2274-275).
Penggunaan kata aqidah dalam al-Qur’an berarti sumpah setia manusia (QS an-Nisa, 4:33; al-Maidah, 5:1&89). Misalnya dalam hal pembagian harta waris, orang yang terikat sumpah setia dengan orang yang meninggal dunia tersebut berhak menerima harta waris. Apabila sumpah setia itu dilanggar, maka ia harus menggantinya dengan kifarat (memberi makan/pakaian kepada 10 orang miskin atau membebaskan seorang manusia dari status perbudakan atau puasa 3 hari). Juga dapat berarti ikatan nikah (QS al-baqarah, 2:235&237) atau kekauan lidah (QS: Thaha, 20:27) atau ikatan tali (QS: al-Falaq, 113:4).
Berdasarkan makna kamus maupun penggunaanya dalam al-Qur’an, maka aqidah dalam Islam dapat didefinisikan sebagai perjanjian manusia dengan Tuhan yang berisi tentang kesediaan manusia untuk tunduk dan patuh secara sukarela pada kehendak Allah SWT.

b.      Ruang Lingkup Aqidah
Kesediaan manusia untuk tunduk dan patuh secara sukarela pada kehendak Allah SWT tersebut mengandung 6 komponen dasar perjanjian; yaitu keyakinan hati bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT, keyakinan hati bahwa ada hal yang ghaib seperti malaikat, keyakinan hati bahwa ada manusia biasa yang diberi amanah kerasulan oleh Allah SWT, keyakinan hati bahwa ada petunjuk hidup yang diberikan Allah SWT, keyakinan hati bahwa ada pertanggungjawaban amal perbuatan setelah terjadinya kematian dan keyakinan hati bahwa ada aturan pasti yang melandasi kehidupan ini yang dibuat oleh Allah SWT (QS:al-Baqarah, 2:2-4&177; al-Bayan, kitab Iman, no. 5).
Dampak dari keyakinan tiada Tuhan selain Allah SWT adalj kemandirian  dalam menjalani kehidupan semenjak lahir sampai mati. Ketika seorang manusia dihadapkan pada kesulitan hidup, ia hanya akan meminta pertolongan kepada Allah SWT semata, yang diekspresikan dalam bentuk giat bekerja, terukur dalam merencanakan perbuatan, pandai mengambil pelajaran dari pengalaman dan taat azas dalam mencari dan mengusahakan pemecahan atas kesulitan hidup yang dialaminya sampai berhasil diatasi.
Dampak dari keyakinan ada hal ghaib adalah kontrol diri yang terukur dan objektif. Ketika seorang manusia bergaul dengan manusia lain atau lingkungan hidupnya, ia sadar bahwa setiap perbuatannya memberi pengaruh kepada orang lain atau lingkungan tempat hidupnya tersebut. Apabila ia sedang sendirian dan tidak ada sepasang matapun yang melihat, ia tetap akan memilih perbuatan yang bermanfaat bagi manusia lain dan lingkungan hidupnya. Dilihat atau tidak oleh orang lain, ia tetap berbuat yang memberi manfaat bagi diri dan lingkungan sosialnya.
Dampak dari keyakinan ada amanah kerasulan yang diberikan Allah kepada manusia biasa adalah penghargaan terhadap objektivitas informassi. Hanya informasi yang mengandung kebenaran sajalah yang dapat dijadikan landasan perbuatan manusia, jika ia ingin selamat dalam kehidupan ini maupun kehidupan nanti. Yang harus diikuti buka Muhammad din Abdullah melainkan kerasulan yang diamanahkan Tuhan kepadanya. Yang pantas dijadikan landasan perbuatan manusia adlah kerasulan yang diamanahkan Allah kepada Isa, Musa, Ibrahim dan nabi nabi lainnya, bukan meng”kultus”kan kesempurnaan tubuh Isa, Musa, Ibrahim atau nabi nabi lainnya.
Dampak dari keyakinan ada kumpulan petunjuk Tuhan yang pernah diberikan kepada nabi adalah adanya kepastian petunjuk hidup yang dapat diikuti atau diingkari manusia. Tuhan telah menghamparkan jalan lurus serta jalan yang ebrkelok kelok. Manusia cerdas diminta untuk memilih satu diantara kedua jalan tersebut dan tidak ada pilihan ketiga. Apabila ia ingin hidup selamat ia akan memilih jalan lurus. Sebaliknya apabila ia memilih jalan berkelok kelok maka ia akan memetik akibat dari pilihannya tersebut.
Dampak dari keyakinan ada pertanggungjawaban amal perbuatan setelah kematian adalah keadilan dan sportivitas proses perbuatan. Hidup di dunia ini menjadi bermakna, karena perbuatan yang dilakukan di dunia hari ini menjadi tumpuan harapan di dunia yang akan datang. Seandainya hidup itu diawali dengan kelahiran dan ditutup dengan kematian, maka perbuatan jahat atau perbuatan bajik tidak akan ada gunanya. Orang kuat akan melindas orang lemah, hidup menjadi perjuangan liar untuk diserang atau menyerang. Kemanusiaan akan berujung di jurang kehancuran.
Dampak dari keyakian ada aturan pasti yang mengikat alam semesta ini termasuk tubuh manusia adalahkeleluasaan ruang dan waktu bagi manusia untuk mengembangkan seluruh potensi dirinya. Potensi diri itu dikembangkan melalui aktivitas berpengetahuan yang dilakukan sedikit demi sedikit seiring pertambahan usianya di dunia ini. Berdasarkan pengetahuan yang dibuatnya itulah manusia menapaki jaln hidup yang sudah digelar Allah semenjak dalam kandungan ibunya sampai kembali kepada Allah.
Ringkasnya, manusia yang memnuhi perjanjian yang dibuatnya dengan Allah, akan menjadi manusia yang mandiri, mampu mengendalikan diri, objektif dalam menanggapi informasi, mampu memilih yang terbaik bagi diri dan lingkungannya, sportif dalam berbuat dan selau belajar dari pengalaman di masa lalu.

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Newer Post Older Post ►